GOVERNANCE 2.0: COBIT & AI SEBAGAI COMPASS TATA KELOLA TI MASA DEPAN
- Penulis: Muhammad Aprieldauzi F.
- Kategori: IT Governance, COBIT, Artificial Intelligence
- Hari/Tanggal: Selasa, 10 Maret 2026 (13.30 WIB - Selesai)
- Host: Ulfa Diana Pertiwi (INIXINDO Jogja)
- Speaker: Umar Afandi (INIXINDO Jogja)
Di tengah rutinitas kegiatan magang saya yang cukup padat dari awal tahun ini, menyempatkan diri menyimak webinar mengenai tata kelola TI terasa sangat relevan, terutama saat membahas posisi AI sebagai instrumen masa depan. Mas Umar Afandi membuka diskusi dengan sebuah analogi yang sangat relatable, yaitu menyamakan AI dengan sebuah black box atau kotak hitam. Secara teknis, kita sering kali hanya memahami apa yang masuk sebagai input dan apa yang keluar sebagai output, namun proses pemrosesan di dalamnya sering kali menjadi misteri bahkan bagi para pengembangnya sendiri. Tantangan terbesar muncul ketika AI diberikan wewenang untuk mengambil keputusan krusial secara otomatis tanpa adanya campur tangan manusia (human in the loop). Contohnya sangat nyata, mulai dari penentuan kelayakan kredit perbankan, proses seleksi penerimaan mahasiswa, hingga diagnosa medis yang sangat sensitif. Jika data pelatihannya tidak diaudit dengan benar, AI berisiko tinggi menghasilkan keputusan yang bias dan tidak adil, sehingga keterlibatan manusia dalam pengawasan tetap menjadi hal yang mutlak.
Salah satu poin paling mencerahkan dalam webinar ini adalah penjelasan mengenai perbedaan mendasar antara manajemen dan tata kelola melalui analogi sebuah mobil. Manajemen diibaratkan sebagai proses teknis untuk memastikan seluruh komponen mobil, seperti mesin, ban, dan sistem pembakaran, bekerja secara optimal dan selaras. Di sisi lain, tata kelola atau governance adalah peran pengemudi yang memegang kendali setir untuk mengarahkan ke mana mobil itu akan melaju sesuai tujuan. Governance menentukan kapan kita harus memacu kecepatan atau justru mengerem saat menghadapi medan yang sulit. Dalam konteks AI, banyak organisasi saat ini bertindak sebagai pengadopsi (adoption) dan bukan pengembang dari nol. Karena sulit bagi kita untuk "me-manage" komponen internal AI yang bersifat black box, maka fokus utama kita adalah "meng-govern" atau mengarahkan penggunaannya melalui kebijakan dan etika agar tetap berada dalam koridor yang benar dan bertanggung jawab.
Lebih dalam lagi, Mas Umar memaparkan bagaimana kerangka kerja COBIT 2019 dapat berfungsi sebagai kompas dalam menavigasi implementasi AI. Dalam sistem COBIT, AI dapat dipetakan ke dalam komponen ketujuh, yaitu service, infrastructure, and application. Untuk menciptakan AI yang terpercaya (trustworthy AI), kita bisa menggunakan berbagai objektif yang ada di dalam COBIT. Misalnya, untuk menjamin kualitas layanan, kita bisa mengacu pada domain APO11 dan BAI03. Untuk memastikan transparansi dan integritas etika, kita bisa menggunakan panduan dari EDM01 dan EDM02, sementara urusan keamanan dan privasi data dapat dikawal melalui DSS05 dan APO14. Selain COBIT, Mas Umar juga menyarankan penggunaan referensi global lain seperti NIST AI Risk Management Framework (RMF) dan ISO 42001 sebagai standar sistem manajemen AI untuk memperkuat penilaian dampak dan manajemen risiko di organisasi.
Sebagai penutup, ditekankan bahwa kecepatan inovasi AI sering kali melampaui kemampuan organisasi dalam mengantisipasi implikasinya. Muncul ancaman-ancaman baru yang lebih kompleks seperti manipulasi data (data poisoning) atau bias representasi yang bisa merusak kredibilitas sistem. Mas Umar mengingatkan bahwa perusahaan yang lambat mengadopsi tata kelola AI akan tertinggal jauh, ibarat seorang petani yang masih bertahan menggunakan cangkul di saat kompetitornya sudah menggunakan traktor otomatis. Oleh karena itu, dukungan dari level eksekutif sangat krusial untuk membangun budaya security awareness dan etika penggunaan AI yang terintegrasi di seluruh lini perusahaan. Hasil akhir yang ingin dicapai adalah sebuah sistem tata kelola yang tidak hanya reaktif terhadap masalah, tetapi proaktif dan siap menghadapi tantangan teknologi di masa depan dengan fondasi yang kuat.