BEDAH RUANG SIBER XIII: "THR UTUH, DATA TANGGUH: GEMBOK DATA PRIBADI, LEPAS DARI JEBAKAN SCAM DAN INVESTASI BODONG"
- Penulis: Muhammad Aprieldauzi F.
- Kategori: Cybersecurity, Data Privacy, Webinar
- Hari/Tanggal: Rabu, 11 Maret 2026 (10.00 WIB - Selesai)
- Moderator: Harits Mustya Pratama
- Speaker: Ir. Budi Raharjo, M.Sc., Ph.D. (Kepala Pusat Mikroelektronika ITB)
Masuk pertengahan bulan puasa, obrolan soal Tunjangan Hari Raya (THR) mulai ramai di mana-mana. Tapi di balik senangnya nunggu saldo bertambah, ada ancaman siber yang diam-diam ikut panen raya. Buat kita yang jadwalnya padat kayak harus ngegas motor sejauh 44 km tiap sore buat berangkat magang ngecek HP pas lagi capek di jalan kadang bikin kita kurang fokus. Nah, di saat lengah dan capek inilah penipu gampang banget masuk. Lewat webinar Bedah Ruang Siber XIII dari Kominfo Jatim bareng Bapak Ir. Budi Raharjo (pakar keamanan siber ITB), kita diajak bedah tuntas gimana cara menggembok data pribadi biar THR nggak amblas.
Modus penipuan sekarang makin mulus dan sering kali mainin psikologis kita. Yang paling sering kejadian adalah penipuan lewat WhatsApp pakai file APK jahat. Biasanya, file ini disamarkan jadi resi paket kurir, undangan pernikahan, sampai pura-pura jadi admin yang ngurusin pajak. Kalau kita lagi nggak fokus dan asal klik, aplikasi jahat ini bakal terinstal dan jalan diam-diam buat ngambil alih HP kita. Ngerinya, mereka bisa baca SMS atau pesan WA yang masuk buat nyuri kode OTP m-banking. Terus, hati-hati juga pas pakai fitur bayar pakai barcode (seperti QRIS) yang layarnya disorot ke kasir. Kalau kodenya kelamaan tampil dan diam-diam difoto sama orang di belakang kita, saldonya bisa dicairkan di tempat lain. Belum lagi bahaya situs palsu yang namanya dipelesetin sedikit biar mirip web resmi, sampai risiko numpang Wi-Fi gratisan di kafe yang rawan banget disadap.
Terus, gimana langkah amannya? Pak Budi ngasih satu trik fisik yang masuk akal banget: pisahkan urusan sosmed dan perbankan di dua HP yang berbeda. Nggak perlu HP mahal, cukup siapin satu "HP kentang" polos yang khusus cuma buat m-banking dan nerima OTP, tanpa ada aplikasi media sosial sama sekali. Sedangkan HP utama dipakai buat hiburan dan komunikasi harian. Jadi, kalau amit-amit HP utama kita kena jebakan link aneh-aneh, uang kita tetap terisolasi dengan aman di HP yang satunya.
Selain itu, jangan gampang panik. Kalau tiba-tiba ditelepon orang yang ngaku dari bank atau polisi dan nakut-nakutin soal rekening yang bermasalah, langsung matikan saja. Tarik napas, lalu kita yang ambil inisiatif untuk telepon balik ke nomor resmi call center-nya. Buat urusan password, setop pakai tanggal lahir, pelat nomor, atau data dari Kartu Keluarga yang gampang dicari orang di medsos. Buat kombinasi yang se-acak mungkin. Terakhir, hindari login m-banking pakai Wi-Fi publik, mending pakai paket data seluler sendiri biar jalurnya jauh lebih aman.
"Kalau keluar rumah kita selalu ingat mengunci pintu, kenapa di dunia digital kita sering membiarkan pintu data kita terbuka lebar seharian? Jangan berikan kesempatan untuk melakukan kejahatan."
Intinya, secanggih apa pun sistem keamanan dari bank, penjahat bakal selalu nyari jalan pintas termudah yaitu dengan mengeksploitasi kelengahan dan kepanikan manusianya.
Sesi Q&A Pilihan dari Webinar:
Beberapa obrolan tanya jawab yang cukup menarik dari sesi webinar kemarin, sudah dikemas menjadi lebih berisi dengan menggabungkan rangkuman penjelasan saat webinar serta pendapat dari Pak Budi.