Ditulis oleh: Muhammad Aprieldauzi F.

Kategori: Tech Talk, Developer Ecosystem, AI Trend

RANGKUMAN

CLOUDRAYA X PYTHON ID JOGJA
“DEVELOPER’S WRAPPED UP 2025: WHAT’S NEXT?”

Banner Webinar 1
Banner Webinar 2

Pada hari Kamis, tepatnya pada tanggal 29 Januari pukul 19.00 WIB, kami menghadiri sebuah webinar bertema Developers Wrapped Up 2025 yang diselenggarakan oleh CloudRaya x Python ID Jogja. Acara ini diisi oleh pemateri sekaligus moderator dari CloudRaya, yakni Michael Antonius selaku Product Dev Lead, serta pemateri Lutfi Zuchri dari Python ID Software Foundation. Bersama pemateri, kami diberikan sebuah diskusi pembahasan mengenai apa saja yang terjadi pada ekosistem developer selama tahun 2025.

Seperti yang dibicarakan oleh salah satu responden survei, terdapat isu mengenai adanya layoff dari perusahaan ke karyawan, serta teknologi AI yang semakin berkembang pesat menjadi tantangan tersendiri bagi developer. Hal ini didukung dengan data sejarah perkembangan kecerdasan buatan, di mana AI digambarkan sebagai "thinking machines" yang telah berevolusi dari Machine Learning (belajar dari pengalaman) menuju Deep Learning (meniru neuron otak manusia). Tren komputasi untuk melatih model AI ini bahkan tercatat meningkat drastis secara eksponensial, mengganda setiap 6 bulan sejak era Deep Learning dimulai pada tahun 2010.

Dalam sesi pemaparan data, dibahas pula mengenai pertumbuhan jumlah developer secara global. Indonesia menempati posisi yang sangat strategis, yakni peringkat ke-8 dunia dengan pertumbuhan (CAGR) sebesar 33,23%, naik 3 peringkat dibandingkan periode sebelumnya. Selain itu, dari sisi bahasa pemrograman yang digunakan di GitHub sepanjang 2023-2025, Python tetap kokoh di peringkat kedua dan JavaScript di peringkat pertama, menunjukkan stabilitas tren teknologi yang perlu dikuasai. Fenomena ini juga diwarnai dengan siklus peluncuran model AI "paling kuat" yang silih berganti, mulai dari OpenAI, Claude, DeepSeek, hingga Gemini, yang menuntut developer untuk terus beradaptasi.

Tantangan lainnya yang menjadi sorotan adalah realitas bahwa AI telah melampaui kemampuan manusia dalam beberapa tugas spesifik seperti pengenalan tulisan tangan dan pemahaman bahasa. Pemateri menekankan pandangan bahwa kehadiran AI tidak terelakkan layaknya senjata nuklir; ini bukan sekadar isu teknologi, melainkan isu politik dan ekonomi. Apakah pekerjaan kita akan tergantikan atau tidak, hal tersebut lebih merupakan keputusan politik dibandingkan sekadar kemampuan teknologi semata. Selain itu, muncul pula tren vibe coding dimana proses pengembangan perangkat lunak dapat dilakukan tanpa menuliskan sintaks secara manual lagi.

Hal lainnya yang dibahas juga ialah mengenai remote job yang diperlukan seorang developer dengan memanfaatkan media sosial yang ada saat ini. Menurut Mas Michael, kuncinya adalah dengan mencari setiap peluang yang ada di manapun itu berada dan jangan menembak penuh ke website atau perusahaan yang sudah besar. Gunakan saja contohnya Instagram, seperti yang terjadi oleh Mas Michael yang menemukan remote job dari Instagram lalu berkembang luas ke mana-mana.

Sementara itu, menurut Pak Lutfi sendiri, poin utamanya adalah bagaimana dari kita sendiri untuk mau mengembangkan portofolio dengan membuat karya-karya seperti di GitHub. Hal ini nantinya bisa menjadi cara kita untuk dapat dilirik oleh perusahaan. Intinya, usaha dulu dan perbanyak dampak ke orang-orang secara positif, nantinya pasti rezeki akan datang. Serta diberikan amanat bahwa selain mencari Rupiah, kalau bisa cari juga Dollar, bahkan Yen, Yuan, Euro, Won, dan mata uang asing lainnya sebagai bentuk diversifikasi pendapatan seorang developer.

DOKUMENTASI SELAMA WEBINAR:

Dokumentasi 1
Dokumentasi 2
Dokumentasi 3
Dokumentasi 4
Dokumentasi 5
Dokumentasi 6
Dokumentasi 7
Dokumentasi 8
Artikel Ini Dipersembahkan Oleh
PT. RADNET DIGITAL INDONESIA

Pionir Solusi Kebutuhan Digital Terpercaya di Indonesia