INSTALASI DEBIAN SERVER 13 (TRIXIE)
VIA VIRTUALBOX
Halo, sobat SysAdmin dan penggiat Open Source!
Masih dalam edisi eksplorasi sistem operasi, setelah kemarin kita berkutat dengan berbagai konfigurasi jaringan, hari ini aku lanjut ke tantangan berikutnya: instalasi Debian Server versi 13 "Trixie". Sebagai mahasiswa yang sering berurusan dengan backend dan infrastruktur, kemampuan deploy OS via VirtualBox ini hukumnya wajib dikuasai sebelum menyentuh server fisik atau Cloud VPS beneran.
Jujur saja, proses instalasi kali ini sempat membuatku bingung semalaman. Masalah utamanya bukan pada spesifikasi laptop, melainkan pada trick di VirtualBox 7.0 dan pemilihan paket instalasi agar sistem yang terpasang murni berbasis teks (CLI), bukan Desktop (GUI) yang berat. Niat hati ingin server yang ringan, eh malah sempat salah setting. Akhirnya, setelah trial and error, aku berhasil menemukan alur instalasi yang benar-benar bersih menggunakan ISO Debian 13. Berikut adalah catatan perjalananku menaklukkan si "Spiral Merah" ini.
Langkah pertama dimulai dengan melakukan booting ISO Debian 13 pada VirtualBox. Tampilan awal yang menyambutku adalah menu instalasi klasik. Di sini, aku memilih opsi "Install" agar proses navigasi menggunakan keyboard untuk target akhirnya adalah sistem CLI.
Setelah urusan nama server selesai, sistem meminta konfigurasi pengguna (user configuration). Aku diminta memasukkan nama lengkap untuk akun pengguna baru. Tanpa pikir panjang, aku mengetikkan "vboxuserdeb". Nama ini juga yang kemudian aku gunakan sebagai username untuk login sehari-hari agar tidak terus-menerus menggunakan akun root yang berisiko secara keamanan.
Tahapan selanjutnya adalah momen yang paling menegangkan bagi pemula: partisi disk. Karena ini adalah lingkungan virtual, aku memilih metode terpandu (guided) untuk menggunakan seluruh disk. Sistem memberikan ringkasan partisi yang akan dibuat, yaitu partisi primary (ext4) dan logical (swap). Dengan yakin, aku memilih opsi "Finish partitioning and write changes to disk" untuk menyetujui format ulang hard disk virtual tersebut.
Sembari sistem melakukan instalasi sistem dasar (base system), muncul prompt mengenai manajemen paket. Sistem menanyakan apakah aku ingin memindai media instalasi tambahan (scan extra installation media). Karena aku menggunakan metode instalasi jaringan (network install) dan tidak punya DVD tambahan, aku memilih "No". Selanjutnya, aku diminta memilih mirror archive untuk mengunduh paket aplikasi. Aku memilih "deb.debian.org" karena server pusat biasanya memiliki ketersediaan paket yang paling stabil dan ter-update.
Tibalah kita di langkah paling krusial yang menjadi kunci keberhasilan instalasi server CLI ini, yaitu Software Selection. Di sinilah letak kesalahan yang sering membuat bingung: jika kita asal klik "Continue", Debian akan menginstal Desktop Environment (GNOME/KDE) yang berat. Berdasarkan tangkapan layar yang aku dokumentasikan, aku secara spesifik menghapus centang pada "Debian desktop environment" dan "GNOME". Sebaliknya, aku hanya mencentang "SSH server" (agar bisa diremote via terminal lain) dan "standard system utilities". Langkah ini memastikan bahwa hasil akhirnya nanti hanyalah layar hitam terminal yang ringan dan efisien.
Menjelang akhir instalasi, boot loader GRUB perlu dipasang agar sistem operasi bisa berjalan saat booting. Sistem menanyakan lokasi instalasi GRUB. Jangan sampai salah memilih "Enter device manually" yang bisa bikin error. Aku memilih direktori "/dev/sda" (VBOX HARDDISK) sebagai tempat bernaung sang boot loader.
Setelah proses yang cukup panjang dan mendebarkan, instalasi akhirnya selesai. Mesin melakukan reboot otomatis, dan voila! Tampilan yang muncul bukanlah antarmuka grafis yang memakan RAM, melainkan prompt login sederhana berbasis teks: "debian13-server login:". Aku pun mencoba masuk menggunakan username "root" dan password yang telah diset sebelumnya. Munculnya informasi kernel Linux 6.12.0 serta prompt "root@debian13-server:~#" menandakan bahwa misi instalasi Debian Server 13 berbasis CLI di VirtualBox ini telah sukses besar.
Sekian dulu cerita ngoprek kali ini. Semoga pengalaman bingung semalamanku ini bisa jadi panduan buat kalian yang mau pasang server Debian tanpa ribet!