INSTALASI ALMA LINUX 9 & ROCKY LINUX 9
VIA VIRTUALBOX
Halo, sobat SysAdmin dan pejuang Open Source!
Masih dalam edisi tugas magang dan eksplorasi sistem operasi, setelah kemarin kita sukses menaklukkan instalasi Debian yang penuh drama, hari ini aku lanjut ke tantangan berikutnya: Keluarga RHEL (Red Hat Enterprise Linux). Sebagai mahasiswa Teknologi Rekayasa Internet, tidak afdol rasanya kalau hanya jago kandang di distro berbasis Debian/Ubuntu. Di dunia enterprise, turunan Red Hat adalah raja. Namun, sejak CentOS End-Of-Life, dunia persilatan Linux kedatangan dua jagoan baru yaitu Alma Linux dan Rocky Linux.
Banyak yang bilang mereka ini "kembar identik", sama-sama binary compatible 1:1 dengan RHEL. Tapi, apakah benar-benar sama rasanya saat diinstal? Karena rasa penasaran itu, aku memutuskan untuk menginstal keduanya sekaligus di VirtualBox. Tujuannya simpel yaitu untuk membangun server CLI (Command Line Interface) yang ringan namun powerful. Berikut adalah dokumentasi perjalananku membandingkan instalasi kedua distro ini dari awal hingga berhasil masuk ke terminal.
Sebelum memulai, bagi teman-teman yang ingin mencoba, pastikan mengunduh file ISO Minimal dari situs resmi mereka atau repositori yang bisa ditemukan melalui tombol dibawah ini:
Petualangan dimulai dari tahap awal booting installer. Hal pertama yang menyambutku adalah pemilihan bahasa. Di sini aku melihat perbedaan nuansa antarmuka meski strukturnya sama. Pada instalasi Alma Linux 9.7, aku memutuskan untuk tetap menggunakan English (United States) agar terbiasa dengan istilah teknis server standar internasional. Tampilannya bersih dengan nuansa biru khas Alma.
Sedangkan saat beralih ke instalasi Rocky Linux 9.7, aku mencoba sesuatu yang sedikit berbeda. Sesuai dengan semangat komunitasnya, aku memilih pengaturan Bahasa Indonesia pada menu instalasinya. Meskipun secara teknis sama-sama menggunakan installer Anaconda, logo gunung Rocky di pojok kiri memberikan identitas visual yang tegas bahwa ini adalah distro yang berbeda.
Setelah urusan bahasa selesai, kita masuk ke jantung konfigurasi instalasi RHEL family, yaitu Software Selection. Ini adalah langkah krusial agar server yang kita bangun tidak membebani laptop. Baik di Alma Linux maupun Rocky Linux, aku memilih "Minimal Install". Tujuannya jelas untuk mendapatkan fungsionalitas dasar tanpa grafis yang berat. Namun, ada satu trik yang aku lakukan di kedua distro ini, yaitu mencentang opsi tambahan "Standard" di kolom sebelah kanan. Opsi ini memastikan tools administrasi dasar Linux sudah terpasang, jadi aku tidak perlu repot mengunduhnya secara manual nanti.
Berikut adalah tampilan konfigurasi paket pada Alma Linux:
Dan ini adalah konfigurasi yang identik pada Rocky Linux. Benar-benar seperti pinang dibelah dua, bukan?
Setelah paket dipilih, kita akan dibawa kembali ke dashboard utama instalasi atau Installation Summary. Di sinilah keunikan installer Anaconda dibanding installer Debian. Kita tidak dipandu langkah demi langkah secara linear, melainkan disajikan menu terpusat. Ada beberapa hal wajib yang harus diselesaikan di sini yaitu menentukan tujuan instalasi atau partitioning, membuat user administrator, dan yang paling sering terlupakan yakni mengaktifkan Network.
Pada Rocky Linux, aku memastikan User Creation sudah beres maka terlihat status "Administrator rocky... will be created" dan jaringan sudah terhubung/connected sebelum menekan tombol "Begin Installation".
Hal yang sama juga aku terapkan pada Alma Linux. Dasbor ini sangat membantu untuk melihat sekilas apakah ada konfigurasi yang terlewat, biasanya ditandai tanda seru oranye. Setelah memastikan profil keamanan dan partisi otomatis terpilih, aku pun memulai proses instalasi.
Setelah menunggu beberapa menit (prosesnya relatif cepat karena menggunakan versi Minimal), mesin virtual meminta reboot. Momen pembuktian pun tiba. Apakah server berhasil berjalan?
Pertama, aku mengecek Alma Linux. Setelah login dan masuk ke mode root menggunakan perintah sudo -i, aku menjalankan perintah ip a untuk mengecek alamat IP. Hasilnya sukses! Terminal hitam klasik menyambutku, menandakan Alma Linux siap digunakan untuk oprek jaringan lebih lanjut. Kucoba SSH dari laptop juga bisa diakses dengan lancar, mantap.
Terakhir, aku beralih ke Rocky Linux. Tidak mau kalah keren, setelah berhasil login dan mendapatkan akses root, aku langsung menginstal dan menjalankan neofetch. Logo "Blue Onyx" Rocky Linux terpampang gagah di terminal, lengkap dengan informasi spesifikasi sistem seperti Kernel 5.14 dan penggunaan memori yang sangat irit hanya sekitar 300MB!. Tidak lupa kucoba untuk akses SSH dari laptop untuk menampilkan neofetch dan berhasil.
Kesimpulannya? Keduanya memang "serupa tapi tak sama". Secara teknis dan cara instalasi, Alma Linux 9 dan Rocky Linux 9 menawarkan pengalaman yang hampir identik dan kemudahan yang sama. Pilihan kini kembali ke preferensi personal sobat pembaca, lebih suka tim biru (Alma) atau tim hijau (Rocky)? Yang jelas, keduanya adalah pilihan solid untuk menggantikan CentOS di lab jaringan kita.
Sampai jumpa di tutorial berikutnya!